PT DSL Indonesia : Ban Solid Elastomeric Plus, Ban Paling Handal Untuk Forklift

PT DSL Indonesia : Ban Solid Elastomeric Plus, Ban Paling Handal Untuk Forklift
PT DSL Indonesia
Product Manager PT DSL Indonesia, Setianto Dwi R

Ban Elastomeric Plus ada tiga lapis. Lapis kedua berfungsi sebagai pelepas panas. Cocok untuk forklift yang bekerja kontinyu selama 24 jam. Life timenya lebih panjang, ada pengecekan unit forklift secara gratis, pasang dan pressing tyre secara gratis melalui layanan Mobile Pressing Tyre.

Tahun 2018, PT DSL Indonesia telah mengambil beberapa langkah progresif dalam memperluas jaringan bisnisnya. Salah satu di antaranya adalah PT DSL berhasil membuat nota kesepakatan dengan salah satu pabrikan ban forklift terkenal asal Sri Lanka untuk menjadi sold agent ban solid Elastomeric Plus di tanah air. Hal ini diungkapkan, Product Manager PT DSL Indonesia, Setianto Dwi R saat berbincang-bincang dengan Indonesia Tire Magazine di kantornya, Legok Tangerang beberapa waktu lalu.

Menurut Dwi, demikian ia biasa disapa, ada beberapa alasan utama kenapa PT DSL Indonesia ingin melebarkan sayapnya ke ban solid elastomeric plus. Pertama, PT DSL ingin merambah ke segmen khusus, yang belum pernah digarap sebelumnya, yakni segmen ban solid premium yang pemainnya juga masih sangat terbatas.
“Selama ini DSL belum bermain di segmen premium ini, makanya DSL mencoba bermain di segmen khusus ini, ban solid kelas premium untuk forklift. Meskipun kita sadar marketnya tidak terlalu besar. Paling sekitar 20 persen marketnya,”ujarnya.
Dwi menambahkan, mesksi pasarnya relative kecil, DSL tetap optimis bisa meraih pangsa pasar itu karena ban solid elastomeric plus ini memiliki keunggulan tersendiri jika dibandingkan dengan kompetitor. Ban elastomeric plus ini dikhususkan kepada premium customer, dimana para customer tidak mentolerir sama sekali apabila ada permasalahan pada forkliftnya, khususnya ban forklift, karena bagi mereka apabila ada permasalahan pada forklift sangat berpengaruh terhadap efektivitas perusahaan, khususnya bagian produksi dan transportasi.
“Kalau elastomeric plus dipaksakan masuk ke bawah, dari segi kualitas masih bisa. Tidak ada masalah dengan bannya. Tapi dari sisi price tidak bisa, karena dari sisi price masuk premium,”jelasnya.

Factor lain yang mendorong DSL memasarkan ban solid elastomeric plus ini karena selama ini kebanyakan forklift menggunakan ban pneumatis atau ban yang berisi angin. Padahal ban seperti ini cukup vulnerable bila digunakan di area-area yang banyak bertebaran benda-benda tajam atau area yang memiliki suhu cukup tinggi.
Menurut Dwi, ketimbang forklift harus sering berhenti atau breakdown beroperasi untuk melakukan penggantian ban dan juga harus keluarkan biaya untuk penambalannya, lebih baik menggunakan ban berkategori solid tyre.

Optimisme DSL dengan kualitas ban solid tentu beralasan. Sebagaimana diketahui selama ini Sri Lanka terkenal dengan industry bannya. 5 top brand untuk ban industrial di dunia sebagian besar diproduksi di Sri Lanka. Untuk manufaktur solid tire, Sri Lanka nomor 1 dunia.
Hal-hal inilah yang mendorong PT DSL Indonesia untuk memasarkan ban solid elastomeric plus, ujar Dwi berapi-api, sambil menambahkan jika saat ini ada tiga tipe ban solid elastomeric. Pertama, elastomeric power, masuk kategori super premium. Ini cocok untuk Negara-negara Eropah. Marketnya sangat sedikit. Kedua elastomeric plus dan ketiga force.
Dari ketiga macam tipe ban solid elastomeric ini, dua yang sudah masuk ke Indonesia, yakni elastomeric plus dan force, dan semuanya diageni PT DSL Indonesia.

Elastomeric Plus dan Force diambil DSL lantaran peluang marketnya cukup besar. Apalagi market untuk ban solid medium di tanah air sangat besar. Atas dasar itulah maka DSL datangkan ban merek Force. House brand DSL yang diproduksi di Sri Lanka. Tapi kualitasnya medium.
“Ban Force ini sengaja didatangkan untuk menghadapi pasar kelas medium yang pasarnya semakin kompetitif seperti sekarang ini. Mau tidak mau DSL datangkan ban yang kompetitif harganya,”jelasnya.
Tujuan utama DSL datangkan ban force ini adalah untuk sasar segmen kelas menengah ke bawah di mana penggunaan forkliftnya hanya dua shift. Sama dengan 12 jam sehari. Begitu juga dengan forklift yang bekerja tiga shift tetapi penggunaannya kurang dari 12 jam maka masih kategori kelas medium.

indotire

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *