Ingin Initial Cost Rendah dan CPH Setara Tier 1, Ban Radial OTR Techking Adalah Solusinya

Ingin Initial Cost Rendah dan CPH Setara Tier 1, Ban Radial OTR Techking Adalah Solusinya

CPH Ban Techking setara dengan ban tier 1, initial cost rendah, after market engeneer, heat and cut resistance,plus cut and speed. Segmen Giant tire ada dua size yakni 27.00R49 untuk kelas HD 785 dan size 33.00 R 51 untuk Dump truck 200 ton. Sudah jadi OEM beberapa equipment terkenal dunia.


Di tengah kondisi mining yang masih stagnan seperti sekarang ini dan pasar konstruksi yang kian tumbuh cukup signifikan di era pemerintahan Jokowi-JK, segmen ban off-the-road (OTR) dari keseluruhan industri ban, tetap diakui, adalah ceruk pasar yang cukup besar dan memberikan peluang menarik bagi semua dealer ban komersial, baik yang menganggap dirinya sebagai penjual ban OTR atau pun bukan.

Ceruk pasar ban OTR yang cukup besar itu menjadikan Indonesia sasaran tembak semua produsen ban global. Belakangan mulai masuk ban-ban branded asal China seperti ban Triangle. Ban Triangle yang diageni PT DSL Indonesia bahkan sudah mulai menjual ban OTRnya awal Tahun 2019. Begitu juga dengan ban branded Trelleborg tipe EMR Series yang ingin menyasar segmen mining sudah mulai beredar di awal tahun 2019.
Tidak hanya itu, dalam berbagai event pameran yang diadakan di Jiexpo Kemayoran beberapa waktu lalu juga nampak begitu banyak produsen ban yang menjajal line up produknya. Cepat atau lambat produk-produk ban ini pasti akan masuk ke tanah air dengan berbagai penawaran yang menarik dan kompetitif.


Kondisi yang kian kompetitif ini tentu akan berpengaruh baik secara langsung atau pun tidak langsung kepada customer. Untungnya, customer semakin punya banyak opsi di segmen ban OTR. Tetapi di sisi lain customer seperti di bawah dalam situasi kegamangan dengan berbagai penawaran baru yang sangat kompetitif itu.
Agus Faizin, General Manager Customer Support Team PT Intra Copenta Wahana (IPW) mengamini kondisi kegamangan customer di tengah kondisi yang semakin kompetitif itu. Dan bahkan menurut pria yang biasa disapa Agus ini, kompetisi di market ban merupakan satu hal yang wajar dan tidak bisa dihindari sejak diberlakukannya kebijakan free trade.
Tetapi meski demikian, Agus yakin customer ban sudah punya gambaran tersendiri tentang ban yang mereka harapan dan customer sudah bisa memilah-milah mana ban yang bisa mensupport produktivitas mereka dan dari sisi financial jauh lebih ekonomis.
Apalagi ketika bicara equipment tambang, ban menjadi one of the big portion of the equipment budget. Karena itu pantas kalau ban pertama-tama dilihat sebagai salah satu yang secara ekonomik penting untuk customer. Kedua cost ban OTR punya impact terbesar terhadap produktivitas dari equipment. Atas dasar itu pula maka para pemain ban seperti IPW tentu mendatangkan ban yang berkualitas baik dan bisa memberikan solusi financial kepada customer.
Salah satu ban yang diyakini IPW bisa menjawab kebutuhan customer di segmen ban OTR adalah ban asal negeri tirai bambu, Ban Techking yang diageni PT Intraco Penta Wahana sejak 11 Tahun lalu. Kenapa IPW pilih ban Techking? Menurut pria yang sudah 23 Tahun tekun di bidang after sales services ini, ban Techking punya dua kekuatan.


Kekuatan pertama, dari sisi kualitas. Ban Techking diyakini punya kualitas yang mumpuni karena didukung penuh oleh team R&D techking. Setengah dari manuaktur Techking adalah untuk R&D. Hal ini menandakan bahwa Techking konsern dengan kualitas ban dan akan terus melakukan develop di segmen ban OTRnya.
Kekuatan kedua, di samping CPH (Cost per Hour) yang mendekati tier 1, seperti produk-produk utama yang banyak beredar sekarang ini, Michellin, Bridgestone dan Goodyear, ban Techking juga punya kekuatan lain yakni initial costnya rendah atau nilai beli awalnya rendah.
“Jadi buat customer yang konsern terhadap budget, techking punya solusi dari sisi financial. Begtu juga dari sisi kualitas, kita bisa pertanggungjawabkan dari sisi itu, CPHnya kurang lebih sama dengan yang tier 1,”ujarnya.


Meski diakui Agus, ban Techking tidak bisa apel to apel dengan The Big three dari sisi life timenya, tapi dari sisi cost per hournya (CPH) bisa disamakan dengan The big Three. “Jadi buat customer menjadi happy menggunakan ban tacking karena mereka merasa bahwa ini salah satu solusi, karena di satu sisi initial costnya rendah, di sisi lain dari Total Cost Per Hournya kurang lebih sama dengan tier 1,”jelasnya lagi.
Selanjutnya Agus menjelaskan, jika dilihat dari sisi reduce cost kalau dibandingkan dengan menggunakan ban premium, secara total impacknya tidak terlalu terasa, tapi yang lebih penting adalah karena initiasl costnya rendah sehingga secara cash flow customer sangat terbantu dengan kehadiran ban tacking ini. Jadi sasaran tembak kita ke situ, jelasnya.
Sampai saat ini ada lima tipe ban Techking yang sudah dimasukan IPW. Pertama, ban ADT, ada dua size di segmen ADT. Kedua, ban HD, ketiga, ban loader, keempat ban grader dan kelima ban truck. IPW sengaja mendatangkan kelima tipe ini ke tanah air karena kelima tipe ini yang paling dominan dibutuhkan pasar di tanah air.


Tidak berhenti di lima tipe ban OTR yang sudah ada, IPW di akhir Tahun 2018 melebarkan sayap bisnisnya ke segmen giant tire. Keputusan untuk masuk segmen giant tire ini tidak datang begitu saja. IPW telah melakukan studi market yang cukup panjang dan mapping kebutuhan ban giant, sampai pada akhirnya masuk ke segmen giant tire, segmen di mana segmen terkuatnya tier 1. Kekuatan terbesar the big three ada di segmen ini. Dan sekarang IPW mulai masuk ke segmen itu. Artinya cepat atau lambat customer akan punya solusi alternative yang lain. Tinggal dibuktikan bahwa secara initial cost rendah dan life timenya yang mumpuni.
“Kami confidence dengan life timenya ban Techking ini. Total CPHnya kita bisa samakan. Dengan development yang berkelanjutan ban tacking bisa akan semakin kompetitif dengan brand lain untuk masuk segmen giant tire,”pungkasnya.


Untuk segmen giant tire IPW masukan dua zise yakni 27.00R49 sekelas HD 785 setara dengan Caterpillar 777. Kalau di Volvo setara E 100. Dan tipe 33.00 R 51, kelas di atasnya, untuk Dump truck 200 ton. Semua ban tacking yang dijual IPW adalah ban radial. IPW special bermain di ban radial.
Ada pun fitur-fitur utama dari ban Techking adalah pertama dari row materialnya yang special, produk pilihan. Rubbernya juga didatangkan dari negara-negara tertentu. Begitu juga dengan kawatnya yang didatangkan dari Jerman. Artinya secara quality, Techking wajib menjaga dari sisi row materialnya.
Fitur lainnya ada heat resistance untuk hauling atau transport yang cukup panjang di atas 6 km. Fitur ini lebih dominan untuk area pertambangan batu bara. Ada juga cut resistance untuk wilayah-wilayah yang membutuhkan ban cut seperti tambang emas, semen dan nikel.


Selain itu, Techking juga siapkan compound untuk yang tengah-tengah, yang biasa dikenal dengan Cut and Speed (CS). Compound CS ini untuk menfasilitasi unit customer yang memang ingin jaraknya sedang tetapi agak sedikit cut kondisinya. Sebagaimana diketahui, ban sebenarnya jarang habis 100 persen. Mayoritas cut samping, di sidewallnya. Untuk mengatasi problem itu, Techking siapkan Cut and Speed ini, jelasnya.
Sementara untuk wilayah yang sangat esktrem terhadap cut, Techking punya yang namanya Super Cut. Daerah-daerah khusus yang membutuhkan special equipment. Selain itu IPW juga punya fleet tire khusus untuk under ground. Jadi Techking juga punya teknologi untuk mining under ground.


Tidak hanya itu, ternyata di ban giant Techking juga ada fitur special, di mana dari sisi bloknya ada yang namanya Big Block Pattern. Big Block Pattern merupakan kembangan yang dirancang khusus untuk memaksimalkan traction dan bisa self cleaning. Dengan Big Block ini sebenarnya ingin membuang ruang-ruang yang bisa menyelip batu. Sehingga ban bisa membersihkan dirinya sendiri (self cleaning).
Kalau dari sisi manufaktur sendiri, ketika ban selesai diproduksi, tidak serta merta ban bisa langsung di bawah keluar dari manufaktur. Semua ban yang selesai diproduksi dan siap keluar dari manufaktur harus selalu dilakukan XR, harus ada cetak birunya. Tujuannya agar pada saat terjadi warranty atau klaim, pihak manufaktur tahu di mana kelemahan dari ban Techking untuk kemudian dilakukan develop selanjutnya.

indotire

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *